Minggu, 28 Juli 2013

Komunitas TDA adalah Komunitas Tangan Diatas Bukan Tangan Dibawah


Komunitas TDA adalah Komunitas yag terdiri dari para personal yang berniat menjadi pengusaha, menjadi Tangan diatas (sebagai pemberi) bukan Tangan Dibawah (TDB, Penerima).

Saya mula pertama membaca kiprah Komunitas TDA ini melalui harian Republika yang ada dirumah tetangga saat mengajarkan anaknya aplikasi komputer. Saat itu saya langsung berpikir, fantastis sekali kiprahnya. Sederhana, namun aplikatif.

Meski demikian, dengan banyaknya cara penipuan, iming-iming adanya bisnis dengan hasil yang cepat membuat saya ingin tahu lebih banyak mengenai komunitas ini. Cara termudah adalah membuka blog Jenderal Komunitas TDA sendiri, Badroni Yuzirman. Dari sana saya bisa menilai kualitas komunitasnya dan bisa melakukan penelusuran dengan cara melakukan blogwalking ke blog-blog member TDA lainnya.

Satu hal yang prinsip, ini bukan komunitas yang menawarkan hasil instan. Bukan komunitas yang meminta anda melakukan setoran sekian rupiah untuk kemudian dijanjikan keuntungan sekian puluh atau sekian ratus persen. Ini komunitas, bukan usaha mencari untung dari membership. Ya begitulah cirikhas Komunitas TDA.

Ciri khas TDA yang membuat saya tertarik adalah prinsip dasar mereka, yaitu "Action". Komunitas TDA tidak bicara soal teori yang tidak membumi, yang hanya mantap ditataran cerita-cerita ekonomi dibuku. Para member TDA umumnya datang dengan berbagai macam latar belakang namun memiliki satu kesamaan, yaitu berniat membangun usaha untuk kemudian nantinya tidak perlu lagi bekerja sebagai orang gajian melainkan sebagai pengusaha. 

Apakah pengusaha disini diartikan sebagai konglomerat. Tentu saja bukan, meski kemungkinan kearah itu tidak tertutup. Banyak dari member TDA yang menjadi pengusaha dalam level yang awal, yang benar-benar baru dimulai. Prinsip yang dianut oleh TDA bisa membuat kondisi dimana para amphibi (istilah komunitas TDA untuk member yang hendak terjun sebagai pengusaha namun masih berstatus sebagai pekerja) mendapat bimbingan usaha maupun motivasi dari member TDA senior.

Menjelang akhir tahun ini, ada sebuah toko milik orang tua yang bisa saya kelola. Ini merupakan awal yang baik untuk saya gunakan sebagai awal bagi upaya saya melakukan diversifikasi kegiatan yang saya lakukan.

Ada anggapan, jika mengerjakan 2 hal atau lebih sekaligus biasanya tidak akan memberikan hasil yang optimal. Ya, tentu saja saya ingat selalu nasihat itu. Untuk itulah saya memilih komunitas yang benar-benar membumi, komunitas yang memang nyata kualitas dan hasil kerjanya.

Yang menarik, membership komunitas TDA ini berdasarkan proses invite. Milis TDA bersifat tertutup. Jika dilihat dari prinsip TDA yang menekankan pada action, proses invite untuk membership komunitas TDA bisa sekaligus sebagai penyaring member yang hanya ingin menjadi spammer :-).

Saya percaya pada LOA (Low of Attraction). Saya juga percaya bahwa pada akhirnya, ada kesamaan emosi dan pola pikir yang akan menghubungkan orang-orang yang memiliki ide senada. Saya menemukannya saat melakukan blogwalking para blogger yang tinggal di Bekasi untuk keperluan Planet Bekasi dan menjumpai blog milik Pak Hadi Kuntoro. Ternyata beliau tinggal di Bekasi. Mengetahui bahwa beliau menjadi member TDA, saya bisa bertanya lebih banyak mengenai komunitas TDA dan kiprah usaha pak Hadi sendiri. Tak dinyana, Pak Hadi memberikan kesempatan pada saya untuk bergabung dengan TDA. Terima kasih pak Hadi.

Hal menarik lainnya dari komunitas TDA adalah kiprah member TDA sebagai blogger. Diluar hiruk pikuk mengenai kelompok-kelompok blogger yang umumnya berkiprah pada dunia seputar IT dan sosial, ternyata member TDA termasuk blogger aktif dibidang usaha masing-masing. Tak dinyana, Pak Badroni Yuzirman juga menjadi penulis di ABN. Bedanya, beliau menjadi penulis untuk Blog Bisnis, sedangkan saya menjadi penulis untuk City Blog.

Mudah-mudahan saya bisa berkontribusi aktif bagi komunitas TDA dan semoga ini bisa menjadi awal yang indah dibulan Ramadhan 1428 H.
Beberapa waktu lalu, kita telah membahas tentang pentingnya menginjeksikan spirit kesaudagaran manakala sebuah bangsa hendak melenting menuju ranah kemakmuran. Narasi tentang kemonceran sebuah negeri dengan kata lain selalu dibentangkan oleh kisah heroisme barisan para entrepreneurnya.

Masih banyak ikhtiar yang perlu dirajut untuk bisa membentangkan benih-benih kemandirian ekonomi itu dalam keseharian masyarakat kita. Beruntung kini banyak anggota masyarakat yang dengan penuh kegairahan mencoba menegakkan kembali spirit entrepeneurship itu. Salah satunya adalah sebuah komunitas yang heroik nan penuh gairah bernama Tangan Di Atas – sebuah komunitas yang ingin menegakkan sebuah mimpi tentang terciptanya an entrepreneur nation.
Nama Tangan Di Atas sendiri diracik lantaran para anggotanya berniat untuk menjadi insan yang memiliki tangan diatas – maksudnya ingin menjadi insan yang senantiasa bisa menciptakan dan memberikan pekerjaan bagi sesama; dan tidak selamanya menjadi TDB (tangan dibawah) – maksudnya setiap bulan masih menerima gaji. TDA juga berarti ingin menjadi insan yang mandiri secara ekonomi dan finansial; dan pada ujungnya senantiasa ingin menjadi insan yang bisa menebarkan rahmat dan kemuliaan bagi sesama.
TDA sendiri lahir lantaran sebuah blog yang diasuh oleh anak muda progresif bernama Roni Yuzirman. Melalui beragam tulisan di blognya tentang entrepreneurship dan bisnis, ia memprovokasi dan menginspirasi pembacanya untuk berani mengambil tindakan menjadi insan-insan mandiri. Only Inspired Action Brings You Closer To Your Dreams, begitu semboyan yang selalu ia suarakan dengan penuh kegairahan.
Demikianlah, melalui interaksi antara dia dengan segenap pembacanya lalu terbentuklah Komunitas Tangan Di Atas pada tahun 2006 lalu. Kini, komunitas ini telah memiliki anggota lebih dari 2000-an orang dan tersebar di segenap penjuru Nusantara; dan banyak diantaranya masih berstatus karyawan yang ingin belajar dan berniat menjalankan bisnis sendiri.
Sampai saat ini Roni sendiri tetap rajin mengupdate isi blognya. Tulisannya asyik untuk dibaca, tangkas dan cergas. Saya nyaris tak pernah melawatkan isi postingannya. Sebab disana saya selalu bisa menemukan buih-buih pembalajaran yang kaya nuansa, bijak dan juga inspiratif (thanks Ron for your insightful blog !!).
Melalui serangkaian program yang digelar secara rutin – baik melalui media online ataupun offline, komunitas TDA tampaknya telah berhasil menumbuhkan para entrepreneur muda yang terus dengan gigih menjalankan roda usahanya. Begitulah, disitu kita kita bisa mendengar kisah tentang seorang star employee di perusahaan mutinasional Pfizer yang memutuskan untuk resign, dan kemudian memilih menjadi juragan batik online.
Juga tentang seorang profesional muda di perusahaan farmasi raksasa Pfizer yang mantap mengundurkan diri, dan kemudian memilih menjadi saudagar Emas yang kini kian menjulang bisnisnya. Atau juga seorang ibu muda elegan nan rupawan yang memutuskan untuk pindah kuadran, dan kemudian menekuni bisnis sablon kaos yang terus berkibar-kibar.
Setiap tahun TDA melakukan semacam annual conference. Mereka menyebutnya Milad TDA. Tahun ini miladnya akan diselenggarakan pada tanggal 28 Feb – 1 Maret mendatang. Selama dua hari itu, kita akan disuguhi beragam sesi pembelajaran yang spektakuler, mulai tentang strategi bisnis oleh pakar dari MarkPlus, sesi motivasi oleh sang guru Tung Desem Waringin, hingga pelajaran leadership oleh sang pengarang buku Kubik Leadership yang fenomenal itu. Biayanya cuma Rp 400 ribu, sebuah harga yang murah untuk sesi seminar selama dua hari dengan para pembicara yang bermutu unggul. Saya sendiri memutuskan untuk ikut hadir dalam Milad itu : mencoba merengkuh beragam pengetahuan dan ketrampilan yang kiranya sangat bermanfaat.
Komunitas TDA dengan beragam kiprahnya mungkin telah memberikan kontribusi yang berarti bagi penumbuhan iklim kemandirian ekonomi di negeri ini. Impian tentang terwujudnya an entrepreneur nation boleh jadi masih jauh, namun setidaknya sebuah langkah konkrit telah dijejakkan. Inilah sederet jejak tentang sebuah perjuangan untuk membangun rumah besar bernama kesejahteraan dan kemuliaan bersama komunitas TDA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar